KropNation Case Study

KropNation

Tech-enabled farms in Indonesia 

BASIC INFORMATION

Company Overview

KropNation, founded in 2020, is a pioneering company aiming to revolutionize agriculture through innovative technology. Krop Nation has a vision to provide locally grown, affordable, and sustainable microgreens to the Indonesian community. Their flagship accomplishment includes the construction of Indonesia’s largest vertical farm, harnessing state-of-the-art infrastructure. KropNation empowers traditional farming communities in Bali by providing them with the ability to cultivate a diverse range of premium and high-value crops. By leveraging modern techniques and resources, the company adds value to these communities by enhancing their productivity and enabling the production of quality superfoods.

INFORMASI DASAR

Informasi Perusahaan

KropNation, didirikan pada tahun 2020, adalah sebuah perusahaan perintis yang bertujuan untuk merevolusi pertanian melalui teknologi inovatif. Krop Nation memiliki visi untuk menyediakan microgreens yang ditanam secara lokal, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. Pencapaian utama mereka mencakup pembangunan pertanian vertikal terbesar di Indonesia, dengan memanfaatkan infrastruktur canggih. KropNation memberdayakan komunitas pertanian tradisional di Bali dengan memberi mereka kemampuan untuk membudidayakan beragam tanaman premium bernilai tinggi. Dengan memanfaatkan teknik dan sumber daya modern, perusahaan ini menambah nilai bagi komunitas-komunitas ini dengan meningkatkan produktivitas mereka dan memungkinkan produksi makanan super berkualitas.

Crop

KropNation helps traditional farming communities diversify their product offerings by utilizing high-tech farming infrastructure, focusing on the cultivation of microgreens and baby leaves. 

KropNation membantu komunitas pertanian tradisional mendiversifikasi penawaran produk mereka dengan memanfaatkan infrastruktur pertanian berteknologi tinggi, dengan fokus pada budidaya microgreens dan baby leaves.

Location

KropNation has implemented high-tech farming infrastructure in Bali’s farming communities at Bedugul, Gobleg, Denpasar, and Tuban regions, enabling twenty farmers to utilize high-tech farming methods.

KropNation telah menerapkan infrastruktur pertanian berteknologi tinggi di komunitas petani Bali di wilayah Bedugul, Gobleg, Denpasar, dan Tuban, yang memungkinkan dua puluh petani untuk memanfaatkan metode pertanian berteknologi tinggi.

KEY PARTNERS & STAKEHOLDERS

MITRA & PEMANGKU KEPENTINGAN UTAMA

Case Study

POINT OF DEPATURE

Bali farmers struggle to optimize their crop productivity, secure production off-take, and acquire the required capital to improve their farms.

These challenges are driven by a few key conditions, which include:

POKOK PEMBAHASAN

Petani di Bali kesulitan untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman mereka, mengamankan hasil produksi, dan memperoleh modal yang diperlukan untuk meningkatkan pertanian mereka.

Tantangan-tantangan ini didorong oleh beberapa kondisi utama, yang meliputi:

APPROACH

PENDEKATAN

Program Impact
Key AreaBeforeAfter
ProductivityFarmers are unable to cultivate premium crop products, due to a lack of knowledge and limited access to funding.

Crops originally only generated revenue of US$ 60 per 100 m2.
Farmer can grow premium/high value or high margin crops product competitively.

Crops revenue grew from US$ 60 to US$ 1300 per 100m2.
Market AccessFarmers were exploited by traders due to market disconnect between them and the consumersKropNation guarantees offtake at competitive market rates.
Financial AccessFarmers did not have access to the right financing to improve their farming operationFarmers receive the necessary financial support to invest in their farming operations and acquire the required inputs for optimal outputs.
Capability BuildingFarmers didn’t receive any inputs on optimizing their production portfolio from tradersKropNation are involved at an early stage in the production process to assist Farmers in determining the appropriate portfolio planning for their crops
Social ImpactFarmers were earning a daily income of US$ 2Farmers’ daily income has increased to US$ 43
Innovation & InfrastructureFarmers utilized traditional farming techniquesFarmers adopted high-tech faming equipment to produce premium and high-value crop
SustainabilityFarmers did not adopt sustainable farming practices and lacked sustainability certificationsFarmers adhered and obtained certification on good manufacturing practices and sustainable production (i.e., HACCP, GMP, and GAP)
Pengaruh Program
Bidang UtamaSebelumSetelah
ProduktivitasPetani tidak mampu membudidayakan produk tanaman premium, karena kurangnya pengetahuan dan terbatasnya akses terhadap pendanaan.

Tanaman awalnya hanya menghasilkan pendapatan sebesar US$ 60 per 100m2.
Petani dapat menanam produk tanaman yang premium/bernilai tinggi atau margin tinggi secara kompetitif.

Pendapatan tanaman meningkat dari US$ 60 menjadi US$ 1300 per 100 m2.
Akses PasarPetani dieksploitasi oleh pedagang karena terputusnya hubungan pasar dengan konsumenKropNation menjamin penjualan dengan harga pasar yang kompetitif
Akses KeuanganPara petani tidak memiliki akses terhadap pembiayaan yang tepat untuk meningkatkan operasi pertanian merekaPara petani menerima dukungan finansial yang diperlukan untuk berinvestasi dalam operasi pertanian mereka dan memperoleh input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output yang optimal
Peningkatan KemampuanPetani tidak menerima input apa pun untuk mengoptimalkan portofolio produksinya dari pedagangKropNation terlibat pada tahap awal proses produksi untuk membantu para petani dalam menentukan perencanaan portofolio yang tepat untuk tanaman mereka
Dampak SosialPetani memperoleh pendapatan harian sebesar US$ 2Pendapatan harian petani meningkat menjadi US$ 43
Inovasi & InfrastrukturPetani memanfaatkan teknik pertanian tradisionalPara petani mengadopsi peralatan pertanian berteknologi tinggi untuk menghasilkan tanaman premium dan bernilai tinggi
Ketahanan LingkunganPara petani tidak mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan dan tidak memiliki sertifikasi ketahanan lingkunganPara petani mematuhi dan memperoleh sertifikasi praktik manufaktur yang baik dan produksi berkelanjutan (seperti HACCP, GMP, dan GAP)